SELAMAT DATANG DI BLOG RESMI ADI WAHYU WICAKSONO,BACA,PAHAMI,DAN TEMUKAN MANFAATNYA..

Menelusuri Eksotisme Kampung Adat Bena

Penelusuran salah satu situs peradaban megalitikum di Nusa Tenggara Timur

Wisata Sehari di Pulau Lombok

Menyelami pesona dan keindahan alam yang terpendam di"Pulau Seribu Masjid"

Menanti Senja di Tegalwangi

Menjadi saksi tenggelamnya sang mentari di salah satu tempat terbaik di Pulau Dewata.

Petualangan di Beji Guwang

Berpetualang memang selalu menjadi tantangan, nikmati serunya penelusuran di salah satu objek wisata yang penuh tantangan.

Menembus Dinginnya Kota Bajawa

Kota berhawa sejuk di tengah Pulau Flores ini menyimpan banyak pesona,banyak cerita dan pengalaman menarik yang didapat selama singgah 5 hari di kota ini.

Sabtu, 18 Februari 2017

Menelusuri Eksotisme Kampung Adat Bena





Pulau Flores menyimpan banyak keindahan yang tak habis untuk dinikmati sekaligus dikagumi oleh siapapun yang berkunjung kesana. Pulau terpanjang di gugusan kepulauan Sunda Kecil ini memiliki berbagai atraksi wisata yang menjadi nilai lebih sebagai daya tarik utama mendatangkan wisatawan ke “Pulau Bunga” ini. Sebagian besar wisatawan sudah sangat akrab dengan atraksi wisata yang ditawarkan oleh Pulau Flores, mulai dari hamparan pantai dan gugusan bukit nan indah di Labuan Bajo yang menawarkan salah satu wisata perairan terbaik di dunia, hingga kemegahan danau tiga warna di Gunung Kelimutu yang menyimpan rahasia tentang fenomena alam yang menakjubkan. Namun Flores tidak hanya memiliki keidahan alam untuk ditawarkan, pulau ini juga memiliki kekhasan tradisi dan budaya yang bisa kita lihat dengan masih terjaganya sejumlah komunitas adat yang tersebar di beberapa wilayah di Pulau Flores.
Kampung adat Bena menjadi “monumen hidup” yang bisa kita temui sebagai bukti masih terjaganya kekhasan tradisi dan budaya yang sudah ada sejak jaman leluhur mereka. Berjarak kurang lebih 18 Km di sisi timur kota Bajawa, Kabupaten Ngada, kita bisa melihat bagaimana masyarakat adat di Kampung adat Bena hidup dengan kesederhanaan dan budaya yang orisinal, beserta warisan peradaban megalitikum yang kokoh berdiri hingga saat ini. 

Jejak Masyarakat Penjaga Warisan Sang Leluhur

Masyarakat adat di Kampung adat Bena merupakan komunitas yang sudah terbentuk sejak 1.200 tahun yang lalu. Masyarakat adat di Kampung Bena terdiri dari 9 suku yang menempati 45 unit rumah yang bangunannya masih alami. Kesembilan suku ini tinggal di rumah-rumah dengan lokasi tingkatan yang berbeda, jadi di Kampung adat Bena akan kita temui 9 tingkatan yang diatasnya terdiri dari rumah-rumah adat, dengan rumah adat Suku Bena berada di tengah-tengah dan di tingkatan paling tinggi, karena Suku Bena dianggap sebagai pendiri kampung segaligus suku tertua yang mendiami kawasan tersebut. Hal itu pula yang mendasari kampung adat ini dinamakan Kampung adat Bena.

Sebagian besar masyarakat di Kampung adat Bena hidup dan bekerja secara tradisional. Para penduduk laki-laki sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai penggarap ladang dan kebun yang ada di sekeliling wilayah kampung adat. Sedangkan para wanita selain ada yang bekerja sebagai penggarap ladang, ada juga yang mengisi waktu mereka dengan membuat kain tenun tradisional. Yang cukup menarik dari kampung ini, meskipun masih diterapkan kehidupan berdasarkan nilai-nilai adat, penduduk laki-laki diperbolehkan untuk keluar dari kampung dan mencari pekerjaan di tempat lain. Maka dari itu penduduk laki-laki yang tinggal di kampung Bena lebih sedikit dari penduduk wanita. Selain itu masyarakat adat di Kampung adat Bena memiliki budaya matrilineal, yang menempatkan garis keturunan dan waris berdasarkan darah sang Ibu. Jadi bisa dibilang wajar jika banyak penduduk laki-laki di Kampung adat Bena mencari penghidupan di luar, karena secara adat, hak waris dari leluhur hanya akan jatuh ke tangan perempuan dari Kampung adat Bena.

Keunikan dan Daya Tarik Kampung Adat Bena


Para wisatawan yang akan berkunjung ke Kampung adat Bena tidaklah sulit. Jika kita berangkat dari Bajawa menggunakan kendaraan bermotor waktu tempuh menuju Kampung adat Bena sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan dari Bajawa ke Bena, kita akan disuguhkan pemandangan hamparan perkebunan kopi yang memang menjadi komoditas paling terkenal yang dihasilkan di Kabupaten Ngada. Selain itu, perjalanan juga akan mengitari lembah dan gugusan perbukitan sepanjang kaki gunung Inerie, yang akan memanjakan pandangan kita sebelum masuk ke gerbang Kampung adat Bena. Jalan yang sempit dan berkelok menuju tempat ini menjadi tantangan jika kita berkendara sendiri, sehingga setiap pengunjung yang mengemudikan kendaraan diharapkan untuk tetap menjaga kewaspadaan dan kehati-hatian selama berkendara.

Sampai di gerbang Kampung adat Bena tak perlu waktu lama untuk menuju lokasi perkampungan, karena letak pemukimannya sangat dekat dengan jalan raya dan lokasi parkir kendaraan. Setiap wisatawan yang hendak masuk ke Kampung adat Bena dikenakan biaya sebesar Rp.20.000. Hal yang cukup unik yaitu semua wisatawan yang masuk akan diberikan semacam syal tradisional yang terbuat dari kain tenun khas Bena, namun syal ini tidak bisa kita bawa pulang, karena harus dikembalikan ketika kita meninggalkan lokasi perkampungan.
 
Memasuki sisi depan Kampung adat Bena kita akan menemukan bangunan berupa susunan batu berundak yang cukup tinggi. Di atas bangunan tersebut merupakan tanah lapang yang digunakan sebagai tempat dilaksanakannya upacara adat masyarakat Kampung Bena. Di beberapa sisi lapangan bisa kita temukan bangunan-bangunan kecil yang menyerupai bale-bale yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan hasil pertanian, selain itu di tengah-tengah lapangan ini terdapat bangunan tiang yang cukup tinggi dengan beratapkan rumbia yang berfungsi sebagai tempat mengikat hewan yang akan dijadikan persembahan dalam upacara dan ritual adat. Beberapa bangunan batu  besar yang sudah ada sejak era megalitikum juga menjadi ciri khas kampung ini. Bangunan batu besar yang berdiri menjulang ada di sisi timur lapangan, oleh leluhur masyarakat Bena yang menganut Animisme batu besar ini digunakan sebagai alat pemujaan kepada arwah nenek moyang sesuai kepercayaan mereka.

Sejenak pandangan kita arahkan ke sekeliling kanan dan kiri kampung, kita bisa melihat rumah-rumah tradisional yang berjajar tersusun rapi. Lokasi rumah disusun secara bertingkat mengikuti topografi tanah yang ada di sana, di depan rumah ada jalan setapak yang terbuat dari batu alam yang menambah nuansa alami perkampungan tradisional ini. Rumah tradisional  masyarakat Bena berpentuk rumah  panggung dengan tiang penyangga yang tidak terlalu tinggi, terbuat dari kayu dengan beratapkan rumbia. Beberapa orang yang ditemui di  Kampung adat Bena masih mengenakan kain tenun tradisional sebagai pakaian mereka. Di beberapa rumah bisa kita lihat Ibu-ibu yang sedang membuat kain tenun tradisional Bena, hasil tenunan mereka dipajang di depan rumah dan bisa kita beli dengan harga berkisar Rp.150.000-Rp.350.000, tergantung besarnya ukuran dan jenis serta motif kainnya.

Beranjak ke bagian atas kampung adat Bena, tepat di ujung sisi selatan lokasi perkampungan sekaligus titik tertinggi di lokasi ini terdapat bukit doa sebagai sarana ibadah masyarakat Bena yang secara keseluruha menganut ajaran agama Katolik. Dari lokasi ini jika cuaca cerah kita bisa melihat indahnya hamparan perbukitan di sepanjang lembah gunung Inerie, namun bagi wisatawan yang akan berfoto ria di lokasi ini harus berhati-hati, karena di lokasi ini tidak  terdapat pagar pembatas antara ujung bukit dengan jurang yang ada di bawahnya. Bagi wisatawan yang datang ke Bena, bersantai di ujung Kampung adat Bena ini  biasanya dijadikan destinasi terakhir, sembari menikmati sejuknya udara dan eksotisme pemandangan Kampung adat Bena dari ketinggian.

Sebagai catatan, Kampung adat Bena merupakan destinasi yang paling terkenal di Kabupaten Ngada. Menurut salah satu petugas wisata di sini waktu puncak kunjungan wisatawan ke Kampung Bena ada di sekitar bulan Juli-September, dimana cuaca sedang bersahabat sehingga lebih maksimal untuk menikmati keindahan tanah Flores yang mempesona. Bagi Anda yang akan menyempatkan untuk datang ke Kampung adat Bena, akan lebih beruntung jika Anda datang di waktu pagi dan siang hari, karena pada waktu itulah jika cuaca cerah pemandangan lepas perbukitan dan lembah di sisi tenggara Kampung adat Bena bisa dinikmati dengan jelas. Hal lain yang harus dipastikan yaitu Anda harus menggunakan pakaian yang cukup tebal guna menahan udara dingin disana. Membawa makanan sendiri juga disarankan, karena di sekitar kampung adat jarang kita temui penjual makanan, meskipun di lokasi Kampung adat Bena juga ada warung kecil yang menjajakan makanan ringan. 

Berwisata bukan sekedar menikmati keindahan destinasi yang kita kunjungi. Lebih dari itu,  menelusuri eksotisme Kampung adat Bena sekaligus menyelami kehidupan tradisional masyarakat setempat menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Banyak hal yang dapat kita pelajari disini, terutama kearifan masyarakat adat Bena dalam menjaga dan melestarikan warisan leluhur mereka. Tradisi dan budaya komunitas adat seperti yang bisa kita lihat di masyarakat adat Bena merupakan kekayaan bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Bagi Anda yang memiliki keinginan untuk melihat contoh kehidupan otentik masyarakat adat yang ada di negeri kita, Kampung adat Bena menjadi destinasi pilihan untuk dikunjungi.


Senin, 09 Januari 2017

Menembus Dinginnya Kota Bajawa


Akhir November 2016 sebuah kejutan menghampiriku. Kali ini aku ditugaskan untuk berkunjung ke salah satu kota di Pulau Flores Nusa Tenggara Timur yaitu Bajawa. Kota Bajawa, sebuah kota kecil berhawa sejuk yang terletak di antara dua bukit di tengah-tengah Pulau Flores menjadi tujuan "penugasan" saya kali ini. Saya berangkat dari Denpasar melalui penerbangan tujuan Labuan Bajo, dan dari Labuan Bajo transit sejenak (sekitar 1 jam) untuk melanjutkan penerbangan menuju Bandara Soa di Bajawa.

Hanya butuh waktu 40 menit untuk terbang dari Labuan Bajo ke Bajawa,  beruntung kondisi cuaca saat itu cerah berawan sehingga penerbangan bisa tepat waktu tanpa kendala. Perlu kawan-kawan ketahui penerbangan menuju beberapa wilayah di NTT seringkali terhambat masalah cuaca, apalagi memasuki bulan November-Desember biasanya kondisi cuaca tidak menentu dan seringkali mengorbankan jadwal penerbangan.
Sampai di Bandara Soa, kulihat sekeliling bandara sangat sepi, maklum saja bandara ini merupakan bandara perintis dan maskapai penerbangan  yang masuk ke Bandara ini sangat terbatas. Setelah masuk ke ruang kedatangan kami sudah disambut oleh kawan-kawan dari Bajawa yang siap mengantarkan Kami ke hotel tempat kami menginap. Langsung saja setelah semua bagasi kami ambil dan angkut ke mobil, Kami siap bergegas menuju hotel untuk beristirahat.


Selama perjalanan dari Soa menuju Bajawa, sekeliling jalan masih nampak asri hamparan pepohonan dan perkebunan kopi. Perjalanan bisa kami katakan cukup menantang karena mobil yang kami tumpangi harus melewati jalanan yang sempit berkelok, bahkan jika harus perpapasan dengan mobil besar atau truk salah satu kendaraan harus menepi dulu untuk memberikan kesempatan kepada salah satunya untuk lewat. Ada hal yang menarik dalam perjalanan, terlihat bukit hijau yang menjulang dengan pepohona perdu di atasnya. Tampak dari kejauhan begitu asri, namun ketika mobil kami melintas semakin dekat dengan bukit terlihat separuh bagian dari bukit itu merupakan hamparan pasir yang sudah dikeruk untuk pertambangan. Usut punya usut setelah mendapat penjelasan dari kawan yang mendampingi kami di Bajawa, bukit itu memang di dalamnya berisi pasir, dan lokasinya sudah dikontrakan ke perusahaan swasta oleh pemerintah untuk dikelola sebagai bahan tambang galian.

Satu jam perjalanan telah kami lalui dari Bandara Soa ke Bajawa. Waktu setempat menunjukan pukul 13.30 WITA ketika kami sampai di Bajawa, di siang hari yang sangat cerah udara dingin sudah terasa. Saat itu sekeliling kota Bajawa sangat sepi, maklum saja karena Kami datang bertepatan dengan hari Minggu, hari dimana umat Katholik yang menjadi mayoritas di Bajawa beribadah dan menghabiskan waktu di rumah.

Selama lima hari di Bajawa Kami menginap di Hotel Korina, hotel yang dibilang  representatif di Bajawa. Bangunannya sederhana, lebih mirip rumah biasa daripada hotel pada umumnya, dan letaknya  berada di pusat pariwisata kota Bajawa. Di sekeliling hotel ini juga ada beberapa hotel, restoran dan Pusat Informasi wisata (di sekitar hotel ada 3 pusat informasi wisata ) Aku cukup tertegun ketika di kota sekecil ini beberapa restoran menawarkan menu dengan bahasa Inggris dan harga yang cukup mahal bagi wisatawan lokal. Ternyata setelah saya telusuri wisatawan yang singgah di Bajawa memang kebanyakan wisatawan asing dari Eropa, bahkan ada satu restoran, tepat di depan Hotel Korina yang dimiliki oleh orang Eropa.

Suhu dan cuaca saat saya datang ke Bajawa di akhir November 2016 cukup bersahabat. Anggapan sebagian besar orang kalau Bajawa memiliki suhu yang sangat dingin tidak begitu terbukti saat itu, karena memang di Bulan November bukan puncak dari suhu dingin di Bajawa. Suhu dingin di Bajawa akan mencapai puncaknya pada kisaran Bulan Juli-September, di bulan itulah justru menjadi waktu yang paling ramai di Bajawa karena di bulan tersebut jumlah wisatawan yang datang ke Bajawa mencapai puncaknya.

Bicara makanan khas, ada yang cukup menarik ketika saya pertama kali makan makanan khas Bajawa. Sambal dabu-dabu, makanan yang membuat saya rindu akan kota ini, bentuknya sederhana terdiri dari campuran tomat dan irisan cabai rawit, rasanya ..hmmm.. jangan ditanya lagi, pedasnya bukan main, tapi itulah yang membuat saya ketagihan dengan sambal ini. Satu lagi sajian khas yang paling mendunia dari Bajawa, yaitu kopi. Kenikmatan kopi Bajawa sudah sangat terkenal sampai ke mancanegara, bahkan pada September 2016 salah satu event nasional yaitu festival kopi diadakan khusus di Bajawa untuk memperingati hari kopi sedunia. Menikmati secangkir kopi Bajawa ditengah hembusan udara dingin dan selimut kabut menjadi hal yang sangat berkesan. Ditambah lagi sebelum pulang salah seorang rekan menghadiahkanku kopi Bajawa, sungguh semakin sempurna perjalananku singgah selama lima hari di kota kecil nan sejuk ini.


Selasa, 18 Oktober 2016

Trip Sehari di Pulau Lombok

Berawal dari tugas dari kantor yang cukup membebankan, akhirnya malah membawaku ke pengalaman yang mengasyikan berpetualang di Lombok "Pulau Seribu Masjid". Perjalanan  dimulai dari Denpasar via jalur darat-laut. Jam 11 malam kami berkumpul di kantor untuk mempersiapkan keberangkatan sembari menunggu kawan lain datang. Tepat jam 12 malam dua buah mobil siap memberangkatkan kita menuju Pulau Lombok. Kurang lebih 1 jam perjalanan dari Denpasar menuju Pelabuhan Padangbai, jalanan saat itu lengang sehingga mobil bisa melaju cepat. Sampai di pelabuhan, kami tak memerlukan waktu lama untuk segera menaikan mobil ke dalam kapal yang sudah siap mengangkut rombongan menuju ke pulau seberang. Kurang lebih 5 jam perjalanan kami habiskan di atas kapal hingga sampai di Pulau Lombok.

Waktu menunjukan pukul 05.30 ketika kapal bersandar di Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. Dua mobil yang menjadi tumpangan rombongan kami pun segera bergegas dari pelabuhan menuju Ibukota Nusa Tenggara Barat, Mataram. Pagi hari yang sejuk, dengan jalanan yang nampak kosong dari kendaraan bermotor membuat rombongan kami sampai di Mataram dalam waktu yang cukup singkat. Belum sampai jam 7 pagi rombongan sudah sampai di gerbang kota Mataram. Mengingat kegiatan yang akan kami lakukan cukup padat, kami mampir sejenak untuk makan pagi di warung makan  khas Lombok yang ada di pinggir jalan, tepat di depan Mataram Mall. Menu makanan yang ada di sini cukup asing bagiku yang memang baru sekali ini singgah ke Lombok. Di sini menyediakan nasi balap, sejenis nasi campur khas suku Sasak, dengan masakan didominasi oleh olahan makanan laut dengan cita rasa gurih dan asin.
                                            

Puas kami menikmati makan pagi yang sangat nikmat. Selanjutnya kita semua akan menuju kantor UPT BKN Mataram yang akan segera diresmikan. Singkat ceritanya, seharian penuh kami rombongan dari Denpasar mempersiapkan acara peresmian mulai jam 7 pagi sampai jam 1 malam semua bekerja keras untuk mempersiapkan acara. Dan pada akhirnya acara yang telah kami rencanakan berlangsung lancar dan sukses yang ditandai dengan berkenannya Gubernur Nusa Tenggara Barat hadir dan meresmikan secara resmi kantor UPT BKN di Mataram.

Sekarang saatnya jalan-jalan setelah mengabiskan waktu untuk mempersiapkan dan melaksanakan peresmian UPT. Awalnya memang tak disengaja, jujur saya tidak banyak tahu apa saja objek wisata yang menarik di Lombok dan bagaimana untuk mengaksesnya. Beruntung ada salah satu dari rombongan kami yang sudah hafal tempat-tempat menarik di Lombok, jadi yang saya hanya ikut saja. 

Sore itu waktu menunjukan jam 3 sore, matahari masih bersinar cerah di kota Mataram. Rencana awal kita akan menuju pantai Kuta yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah, kurang lebih 1 jam perjalanan dari Kota Mataram. Dari kota Mataram perjalanan menyusuri jalan Bay Pass yang menuju ke Bandara Interasional Lombok. Jalan ini merupakan jalan yang baru selesai dibangun beberapa tahun  lalu, dengan jalan yang lebar dan arus kendaraan yang tidak terlampau padat, banyak mobil dan motor yang bisa memacu kendaraanya dengan kencang di jalan ini.

Singkat cerita, rombongan kami sampai di pantai Kuta, Lombok Tengah, sedikit menyesal melihat kondisi pantai yang jauh dari ekspektasi kita. Akhirnya pimpinan rombongan pun memutuskan untuk melanjutkan ke tempat yang menurutnya lebih eksotis yaitu pantai Tanjung Aan yang berada di sekitar kawasan Mandalika Resort. Rombongan pun bergegas ke sana, melewati jalanan yang kecil dan masih sepi, di sekeliling hanya terlihat sawah tanaman jagung dan alang-alang serta beberapa pemukiman tradisional.  Setengah jam dari pantai Kuta sampai juga kita di pantai tanjung Aaan, begitu turun dari mobil rombongan langsung ditawari oleh beberapa guide lokal disana untuk menyeberang ke Pantai Batu Payung menggunakan perahu dengan harga sewa 250.000. Awalnya kami tidak begitu menggubris tawaran tersebut, karena sudah cukup terpesona dengan hamparan pasir putih yang ada di pantai Tanjung Aan. Tapi begitu melihat "penampakan" pantai Batu Payung yang disajikan oleh para guide itu dan saya bandingkan dengan gambar di internet ternyata kami berpikir tak mau menyianyiakan peluang untuk menikmati pantai Batu Payung.

Setelah rombongan kami sepakat untuk menyeberang ke Pantai Batu Payung, langsung kami menuju ke perahu yang sudah disiapkan dan bergegas menuju ke   Pantai Batu Payung. Mendarat di pantai Batu Payung, kami disambut dengan teriknya matahari yang membuat hamparan bukit batu di sekeliling pantai seolah memancarkan sinar. Pemandangan di sana nampak menakjubkan, pantai pasir putih, gugusan batu karang, dan air laut yang mengalir tenang bak kami berada di alam mimpi. Satu hal yang menjadi daya tarik Batu Payung yaitu adanya batu besar yang menjulang tinggi berbentuk mirip payung, ada juga yang menyebutnya mirip dengan muka manusia.

Puas "bercengkrama" dengan gugusan batu karang di pantai Batu Payung, perjalanan di lanjutkan menyeberang ke pantai Bukit Meresek..hmm, kalau yang ini saya baru benarr-benar kagum, karena ketika kita kita masuk ke bibir pantai sudah disambut dengan gugusan bukit yang terhampar luas yang membuat aku tak sabar untuk menjelajah sampai ke ujung bukit. Berada di bukit seluas ini, rasanya seperti berada di pantai milik sendiri. Saat itu hanya kami berlima yang singgah di pantai dan bukit ini. Dari puncak bukit bisa kita lihat pemandangan luas di sepanjang pantai  Tanjung Aaan dengan cekungan yang begitu mempesona.

Kamis, 01 September 2016

Bersantai Sejenak di Doble Six Beach

Bicara tentang Bali tak bisa kita pisahkan dari pantai, pesta, dan perayaan. Kali ini saya akan berbagi pengalaman tentang salah satu tempat menarik yang pernah saya kunjungi di Bali. Jika kita berkunjung ke Bali pasti yang ada di benak kita adalah keramaian di kawasan Pantai Kuta dan Legian. Namu ada salah satu tempat yang menarik selain Kuta dan Legian. Pantai Double Six oleh kebanyakan orang mengatakan. Pantai ini berada di sebelah barat pantai Kuta dan Legian, bagi wisatawan lokal mungkin kawasan pantai ini belum begitu populer, namun bagi wisatawan mancanegara tempat ini cukup populer.


Pantai yang terletak tepat di depan Double Six Beach Club menawarkan sensasi wisata yang berbeda. Ketika kita memasuki area pantai ini, kita akan menemui deretan cafe dengan payung dan kursi warna-warni di pinggiran pantai. Sebuah daya tarik yang tidak ada duanya, bahkan mungkin bisa dibilang di pantai inilah satu-satunya bisa kita temukan deretan cafe di pinggi pantai yang menyediakan fasilitas kursi pinggir pantai dengan balutan warna warni yang menakjubkan.



Jika kalian ingin singgah ke pantai ini, lokasinya tidak begitu jauh dari pantai Kuta. Dengan berjalan kaki menyusuri pantai Kuta ke arah barat kalian bisa sampai di pantai ini, tapi pasti cukup melelahkan karena jaraknya cukup jauh untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Kalau mau mencapai pantai ini menggunakan motor ataupun mobil dari pantai Kuta berkendara ke arah barat menuju jalan Legian, sampai di perempatan Hotel Mercure belok ke kanan mengikuti petunjuk arah kearah Seminyak. dari jalan Legian kira-kira 500m dari situ Kalian akan menemukan perempatan antara Jl. Arjuna dan Jl.Nakula, arahkan kemudi kendaraanmu ke kanan dan langsung saja menyusuri Jl.Arjuna lurus ke selatan, tak lama pasti kalian akan menemukan hamparan pasir dan permukaan air laut yang membiru.

Sisi menarik dari pantai ini seperti yang sudah saya tulis di atas adalah banyaknya cafe yang berjajar di sepanjang pantai. Kalau kalian sudah puas bermain kalian bisa langsung memilih salah satu kursi unik berwarna warni dan duduk disitu. Tak lama pasti akan datang waitres yang menanyakan pesanan makanan atau minuman. Jika kalian menyempatkan diri untuk singgah di pantai ini saat sore hari, kalian bisa bersantai sejenak di hamparan kursi unik warna warni sambil menikmati indahya matahari terbenam yang ditawarkan oleh Pulau Dewata.